Tampilkan postingan dengan label Tugas IBD#. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas IBD#. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
Maya Indah
komentar (0)
1. Pengertian Harapan
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan,
berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun
mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan
tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan
kemampuan masing-masing. Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda,
biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai
harapan yang berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang
itu seperti peribahasa "Si pungguk merindukan bulan". Berhasil atau tidaknya suatu
harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rio
mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak
pemah hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana Rafiq
memperoleh nilai A. luluspun mungkin tidak. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri
sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud,
maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena
usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya
sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat
terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.Jadi untuk mewujudkan
harapan itu harus disertai dengan usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan
Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak
terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang.
Antar harapan dan
cita-cita terdapat persamaan yaitu :
·
keduanya menyangkut
masa depan karena belum terwujud.
·
pada umumnya dengan
cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.
2. Apa Sebabnya Manusia Mempunyai Harapan?
Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap
Lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah
suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satupun manusia yang
luput dari pergaulan hidup. Di tengah-tengah manusia lain itulah, seseorang
dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya.
Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan orang lain yaitu
dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup.
A. Dorongan Kodrat
Dorongan Kodrat Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan
alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan
oleh Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau
harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan sebagainya. Kodrat juga
terdapat pada binatang, walau bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya.
Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawa dan
kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan
manusia lain. Dengan Kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan.
B. Dorongan Kebutuhan Hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam
keebutuhan hidup. Kebutuhan
hidup pada dasarnya dapat dibedakan atas Kebutuhan Jasmani dan Kebutuhan
Rohani. Untuk memenuhi semua kebutuhan
itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan , kemampuan
manusia sangat terbatas , baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir.
Menurut Abraham
Maslow sesuai dengan kodratnya Harapan dan Kebutuhan Manusia yaitu :
a) kelangsungan hidup (survival)
Untuk melangsungkan
hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan (tempat tinggal).
Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir.
Setiap bayi begitu lahir di bumi menangis, ia telah mengharapkan diberi makan/minum. Kebutuhan akan makan/minum ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan hidup manusia.
Setiap bayi begitu lahir di bumi menangis, ia telah mengharapkan diberi makan/minum. Kebutuhan akan makan/minum ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan hidup manusia.
b) keamanan (safety)
Setiap orang
membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan.
Begitu lahir, dengan suara tangis, itu pertanda minta perlindungan. Setelah
agak besar, setiap anak menangis dia akan diam setelah dipeluk oleh ibunya.
Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman tidak harus diwujudkan
dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa
aman. Dalam hal ini agama sering merupakan cara memperoleh kemanan moril bagi
pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan
memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.
c) hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be
loving and love)
Tiap orang mempunyai
hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan
hak dan kewajiban. Karena itu tidak jarang anak-anak remaja mengatakan kepada
ayah atau ibu. “Ibu ini kok menganggap Reny masih kecil saja, semua diatur!”
Itu suatu pertanda bahwa anak itu telah tambah kesadaran akan hak dan
kewajibannya.Bila seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa,
sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai. Sebab umumnya remaja mulai
menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai dengan alamnya.
d) diakui lingkungan (status)
Setiap manusia
membutuhkan status. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup, Status itu
penting, karena dengan status orang tahu siapa dia Harga diri orang antara lain
melekat pada status orang itu. Misalnya ada anak haram, biarpun anak haram itu
tingkah lakunya baik dan tidak berdosa sebab yang berdosa orang tuanya, namun
masyarakat tetap memberikan cap yang negatif.
e) perwujudan cita-cita (self actualization)
Selanjutnya manusia
berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya
atau profesinya. Pada saar itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya
agar ia diterima atau diakui kehebatannya.
3. Pengertian Doa
Doa adalah permohonan kepada Allah yang disertai kerendahan
hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada di sisi-Nya.
Sedangkan sikap khusyu’ dan tadharru’ dalam menghadapkan diri kepada-Nya
merupakan hakikat pernyataan seorang hamba yang sedang mengharapkan tercapainya
sesuatu yang dimohonkan. Pengertian
doa bagian dari ibadah adalah bahwa kedudukan doa dalam ibadah ibarat mustaka
dari sebuah bangunan mesjid. Doa adalah tiang penyangga, komponen penguat serta
syiar dalam sebuah peribadatan. Dikatakan demikian karena doa adalah bentuk
pengagungan terhadap Allah dengan disertai keikhlasan hati serta permohonan
pertolongan yang disertai kejernihan nurani agar selamat dari segala musibah
serta meraih keselamatan abadi.
4. Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau
meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan
pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. maka jelaslah kepada kita, bahwa dasar
kepercayaan itu adalah kebenaran. Ada jenis pengetahuan yang dimilik seseorang,
bukan karena merupakan hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari
orang lain. Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu
disebabkan karena orang lain itu dapat dipercaya. Yang diselidiki bukan lagi masalahnya,
melainkan orang yang memberitahukan itu dapat dipercaya atau tidak. Pengetahuan
yang diterima dari orang lain atas kewibawaannya itu disebut kepercayaan. Makin
besar kewibawaan yang memberitahu mengenai pengetahuan itu makin besar
kepercayaan.
Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan artinya diberitahukan oleh Tuhan - langsung atau tidak langsung kepada manusia. Kewibawaan pemberi kebenaran itu ada yang melebihi besamya . Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan juga hak ber agama menurut keyakinan.
Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu, Dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan artinya diberitahukan oleh Tuhan - langsung atau tidak langsung kepada manusia. Kewibawaan pemberi kebenaran itu ada yang melebihi besamya . Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan juga hak ber agama menurut keyakinan.
Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu, Dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
5. Berbagai Kepercayaan dan Usaha Meningkatkannya
Dasar kepercayaan
adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Kepercayaan itu dapat
dibedakan atas :
1. Kepercayaan pada diri sendiri
Kepercayaan pada
diri sendiri itu ditanamkan setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri
pada hakekatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa Percaya pada diri sendiri,
menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang
diserahkan atau dipercayakan kepadanya.
2. Kepercayaan kepada orang lain
Percaya kepada orang
lain itu dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja.
Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya ternadap kata hatinya,
perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. Ada ucapan
yang berbunyi orang itu dipercaya karna ucapannya. Misalnya, orang yang
berjanji sesuatu hams dipenuhi, meskipun janji itu tidak terdengar orang lain,
apalagi membuat janji kepada orang lain.
3. Kepercayaan kepada pemerintah
Berdasarkan
pandangan teokratis menurut etika, filsafat tingkah laku karya Prof.Ir,
Poedjawiyatna, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memerintah dan
memimpin bangsa manusia, atau setidak-tidaknya Tuhanlah pemilik kedaulatan
sejati, Karena semua adalah ciptaan Tuhan. Semua mengemban kewibawaan, terutama
pengemban tertinggi, yaitu raja, langsung dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan,
sebab langsung dipilih oleh Tuhan pula (kerajaan)
Pandangan demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun milik rakyat. Rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara. Satu-satunya realitas adalah negara). Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti. Orang. mempunyai arti hanya dalam masyarakat, negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, kedaulatan mutlak pada negara, negara demikian itu disebut negara totaliter. satu-satunya yang mempunyai hak ialah negara; manusia perorangan tidak mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator). Jelaslah bagi kita, baik teori atau pandangan teokratis ataupun demokratis negara atau pemerintah itu benar, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
Pandangan demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun milik rakyat. Rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara. Satu-satunya realitas adalah negara). Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti. Orang. mempunyai arti hanya dalam masyarakat, negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, kedaulatan mutlak pada negara, negara demikian itu disebut negara totaliter. satu-satunya yang mempunyai hak ialah negara; manusia perorangan tidak mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator). Jelaslah bagi kita, baik teori atau pandangan teokratis ataupun demokratis negara atau pemerintah itu benar, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
4. Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan kepada
Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan
dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan
dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena merupakan
tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya. Bagaimana
Tuhan dapat menolong umatnya, apabila umat itu tidak mempunyai kepercayaan
kepada Tuhannya, sebab tidak ada tali penghubung yang mengalirkan daya
kekuatannya. Oleh karcna itu jika manusia berusaha agar mendapat pertolongan
dari padanya, manusia harus percaya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu
menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang maha tinggi
yang menciptakan alam semesta seisinya merupakan
konsekuensinya tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kepada zat tersebut
konsekuensinya tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kepada zat tersebut
Sumber Referensi :
http://rioindra48.blogspot.com/2014/03/tugas-ilmu-budaya-dasar-manusia-dan.html
Label:
Tugas IBD#
Diposting oleh
Maya Indah
komentar (0)
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara
moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian
besar, kejadian memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf
Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20,
menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi
social, sebagaimana halnya kebenaran pada system pemikiran”. Tapi, menurut
kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia
yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan
dihukum, dan banyak gerakan social dan politis diseluruh dunia yang berjuang
menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan
memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan
realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas.
Keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
A.
Pengertian Keadilan
1.
Teori Keadilan John Rawls Pemahaman Sederhana
Didalam perkembangan pemikiran filsafat hukum
dan teori hukum tentu tidak lepas dari konsep keadilan. Konsep keadilan tidak
menjadi monopoli pemikiran satu orang ahli saja. Banyak para pakar dari
berbagai disiplin ilmu memberikan jawaban apa itu keadilan. Thomas
Aqunas, Aristoteles, John Rawls, Dowkrin, R Nozick dan Posner sebagian
nama yang memberikan jawaban tentang konsep keadilan. Dari beberapa nama
tersebut John Rawls, menjadi salah satu ahli yang selalu menjadi
rujukan baik ilmu filsafat, hukum, ekonomi, dan politik di seluruh belahan
dunia, tidak akan melewati teori yang dikemukakan oleh John Rawls.
Terutama melalui karyanya A Theory of Justice, Rawls
dikenal sebagai salah seorang filsuf Amerika kenamaan di akhir abad
ke-20. John Rawls dipercaya sebagai salah seorang yang memberi
pengaruh pemikiran cukup besar terhadap diskursus mengenai nilai-nilai keadilan
hingga saat ini.
Akan tetapi, pemikiran John Rawls tidaklah
mudah untuk dipahami, bahkan ketika pemikiran itu telah ditafsirkan ulang oleh
beberapa ahli, beberapa orang tetap menggap sulit untuk menangkap konsep
kedilan John Rawls. Maka, tulisan ini mencoba memberikan gambaran
secara sederhana dari pemikiranJohn Rawls, khususnya dalam
buku A Theory of Justice. Kehadiran penjelasan secara
sederhana menjadi penting, ketika disisi lain orang mengangap sulit untuk
memahami konsep keadilan John Rawls.
Teori keadilan Rawls dapat
disimpulkan memiliki inti sebagai berikut:
1.
Memaksimalkan kemerdekaan. Pembatasan terhadap kemerdekaan ini
hanya untuk kepentingan kemerdekaan itu sendiri,
2.
Kesetaraan bagi semua orang, baik kesetaraan dalam kehidupan
sosial maupun kesetaraan dalam bentuk pemanfaatan kekayaan alam (“social
goods”). Pembatasan dalam hal ini hanya dapat dizinkan bila ada kemungkinan
keuntungan yang lebih besar.
3.
Kesetaraan kesempatan untuk kejujuran, dan penghapusan terhadap
ketidaksetaraan berdasarkan kelahiran dan kekayaan.
Untuk meberikan jawaban atas hal
tersebut, Rawls melahirkan 3 (tiga) pronsip kedilan, yang
sering dijadikan rujukan oleh bebera ahli yakni:
1.
Prinsip Kebebasan yang sama (equal liberty of principle)
2.
Prinsip perbedaan (differences principle)
3.
Prinsip persamaan kesempatan (equal opportunity principle)
Rawls berpendapat jika terjadi benturan
(konflik), maka: Equal liberty principleharus diprioritaskan
dari pada prinsip-prinsip yang lainnya. Dan, Equal opportunity
principle harus diprioritaskan dari padadifferences
principle.
2.
Keadilan Menurut
Aristoteles
Keadilan menurut Aristoteles adalah
kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah
antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung
ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut
mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang
harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing –
masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran
terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
3.
Keadilan Menurut Plato
Keadilan oleh Plato diproyeksikan
pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan
diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan
pada pemerintahan.
4.
Keadilan Menurut
Socrates
Menurut Socrates, keadilan akan
tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan
tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab
pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.
5.
Pandangan Kong Hu Cu
Mengenai Keadilan
Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi
apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja,
masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada
nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
6.
Pandangan yang General
PadaKeadilan
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan
bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak
dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan
kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang
memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang
sama dari kekayaan bersama.
B.
Keadilan Sosial
Berbicara tentang keadilan, Anda tentu ingan
dasar negara kita ialah Pancasila. Sila kelima Pancasila berbunyi : “keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidupnya manusia menghadapi
keadilan atau ketidak adilan setiap hari. Keadilan sosial mengandung arti
memelihara hak-hak individu dan memberikan hak-haknya kepada setiap orang yang
berhak menerima karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa
berdiri sendiri dalam memenuhi segala kebutuhannya.
C. Berbagai Macam Keadilan
·
Keadilan Legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum
merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya.
Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutnya
keadilan legal.
·
Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan
terlaksana bila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak
sama secara tidak sama.
·
Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban
masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu
merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.
C.
Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa yang
dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai
dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang
benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari
perbuatan-erbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Barang siapa berkata
jujur serta bertindak sesuai dengan kenyataan, artinya orang itu berbuat benar.
Orang bodoh yang ujur lebih baik daripada orang pandai yang lancung.
D.
Kecurangan
Curang identik dengan ketidakjujuran atau
tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa. Curang atau
kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nurani.
Kecurangan menyebabkan manusian menjadi
serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar
dianggap sebagai orang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat di
sekelilingnya hidup menderita. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada
yang melebihi kekayaannya. Padahal agama apa pun tidak membenarkan orang yang
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain, lebih pula
mengumpulkan harta dengan cara yang curang. Hal semacam itu salam istilah agama
tidak diridhoi Tuhan.
E.
Pemulihan nama baik Nama baik
merupakan suatu pencapaian atau tujuan utama
orang hidup. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya baik atau tidak
tercemar nama baiknya. Lebih-lebih jika dia menjadi teladan bagi orang atau
tetangga di sekitarnya adalah suatu kebangganan batin yang tidak ternilai harganya.
Penjagaan nama baik erat hubungan nya dengan tingkah laku atau perbuatan. Baik
atau tidaknya nama kita bergantung kepada diri kita sendiri menyikapi dan
menjalani kehidupan kita bersosialisai atau bermasyarakat di sekitar kita.
Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan
tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini
adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan
perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin
pribadi, cara menghadapi orang, perbuatn-perbuatan yang dihalalkan agama dan
sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan
segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran
moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik
manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir,
melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan
memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong
dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai
sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.
F.
Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan
orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang
seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan
disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan
yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan menimbulkan balasan
yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan
mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk
mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang
menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang
melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia
tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia
berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan
kewajiban itu adalah pembalasan.
Makna Keadilan
Tema : manusia dan keadilan
Dalam Islam keadilan adalah sesuatu yang salah
satu hal yang sangat diperhatikan maknanya, dengan suatu keadilan kita dapat
membela yang benar dan menghukum yang salah.
Makna-makna Keadilan
Beberapa makna keadilan, antara lain;
·
Pertama, adil berarti “sama”
Sama berarti tidak
membedakan seseorang dengan yang lain. Persamaan yang dimaksud dalam konteks
ini adalah persamaan hak. Allah SWT berfirman: “Apabila kamu memutuskan perkara
di antara manusia, maka hendaklah engkau memutuskannya dengan adil…” (Surah
al-Nisa’/4: 58).
Manusia memang tidak seharusnya dibeda-bedakan
satu sama lain berdasarkan latar belakangnya. Kaya-papa, laki-puteri,
pejabat-rakyat, dan sebagainya, harus diposisikan setara.
·
Kedua, adil berarti “seimbang”
Allah SWT berfirman:
Wahai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang menciptakan kamu lalu menyempurnakan
kejadianmu, dan mengadilkan kamu (menjadikan susunan tubuhmu seimbang). (Surah
al-Infithar/82: 6-7).
Seandainya ada salah satu anggota tubuh kita
berlebih atau berkurang dari kadar atau syarat yang seharusnya, pasti tidak
akan terjadi keseimbangan (keadilan).
·
Ketiga, adil berarti “perhatian terhadap hak-hak individu dan
memberikan hak-hak itu pada setiap pemiliknya”
“Adil” dalam hal ini bisa didefinisikan
sebagai wadh al-syai’ fi mahallihi (menempatkan sesuatu pada tempatnya).
Lawannya adalah “zalim”, yaitu wadh’ al-syai’ fi ghairi
mahallihi (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya). “Sungguh merusak
permainan catur, jika menempatkan gajah di tempat raja,” ujar pepatah.
Pengertian keadilan seperti ini akan melahirkan keadilan sosial.
·
Keempat, adil yang dinisbatkan pada Ilahi.
Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah SWT.
Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. Keadilan-Nya mengandung
konsekuensi bahwa rahmat Allah SWT tidak tertahan untuk diperoleh sejauh
makhluk itu dapat meraihnya.
Allah disebut qaiman bilqisth (yang menegakkan
keadilan) (Surah Ali ‘Imram/3: 18). Allah SWT berfirman: Dan Tuhanmu tidak
berlaku aniaya kepada hamba-hamba-Nya (Surah Fushshilat/41: 46).
Perintah Berbuat Adil
Banyak sekali ayat al-Qur’an yang memerintah
kita berbuat adil. Misalnya, Allah SWT berfirman: Berlaku adillah! Karena adil
itu lebih dekat kepada takwa. (Surah al-Ma-idah/5: 8).
Dijelaskan ayat ini, keadilan itu sangat dekat
dengan ketakwaan. Orang yang berbuat adil berarti orang yang bertakwa. Orang
yang tidak berbuat adil alias zalim berarti orang yang tidak bertakwa. Dan,
hanya orang adil-lah (berarti orang yang bertakwa) yang bisa mensejahterakan
masyarakatnya.
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Tuhanku memerintahkan menjalankan al-qisth (keadilan)” (Surah
al-A’raf/7: 29). Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat
ihsan (kebajikan) (Surah al-Nahl/16: 90). Sesungguhnya Allah telah menyuruh
kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu
apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil).
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-sebaiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Surah al-Nisa/4:
58).
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
orang-orang yang benar-benar menegakkan Keadilan, menjadi saksi karena Allah,
biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu bapakmu dan keluargamu. Jika ia
kaya ataupun miskin, Allah lebih mengetahui keadaan keduanya, maka janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu, sehingga kamu tidak berlaku adil. Jika kamu memutar
balikkan, atau engggan menjadi saksi, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala
apa yang kamu kerjakan. (Surah al-Nisa’/4:135).
Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang
beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang
satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar
perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia
telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
(Surah al-Hujurat/49: 9).
Label:
Tugas IBD#
Diposting oleh
Maya Indah
komentar (0)
A. KEGELISAHAN
1. Pengertian Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Dalam kamus umum
Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminto, gelisah artinya tidak tentram hatinya, selalu
merasa khawatir, tidak dapat tenang dalam hidupnya, cemas. Jadi, kegelisahan adalah gejala universal,
ada pada manusia dimana saja.
Kegelisahan
timbul karena perbuatan manusia sendiri atau karena keadaan dari luar
lingkungan manusia sendiri, yang memberi pengaruh psikologis, yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain.
Manusia
suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Tragedi dunia modern
tidak sedikit dapat menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat kebutuhan
hidup yang meningkat, rasa individualistis dan egoisme, persaingan dalam hidup,
keadaan yang tidak stabil dan seterusnya kegelisahan dalam konteks budaya
dapatkah dikatakan sebagai akibat adanya instik manusia untuk berbudaya, yaitu
sebagai upaya mencari kesempurnaan.
Alasan
mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan
perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa:
1)
Keterasingan
2) Kesepian
3)
Ketidakpastian
Perasaan seseorang yang sedang gelisah ialah
hatinyatidak tentram, merasa khawatir,cemas, takut, dsb. Untuk mengatasi kegeisahan
ini, manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, taqwa dan amal shaleh.
Seperti Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah, lagi kikir; apabila ia ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan
shalatnya dan orang-oran yang dalamhartanya tersedia bagian tertentu, bagi
orang (miskin) yang meminta dan orang (miskin) yang tidak bisa meminta.” (QS.
Al-Ma’arij, 70: 18-27).
Perasaan cemas menurut
Sigmund Freud ada tiga macam, yaitu:
1. Kecemasan kenyataan (obyektif)
Contohnya: Anaknya yang belum pulang, orang tua
yang sedang sakit, dsb.
2. Kecemasan neurotic (saraf)
Kecemasan ini timbul
karena pengamtan tentang bahaya dari naluriah. Menurut S. Freud kecemasan ini
dibagi dalam tiga macam, yaitu:
a) Kecemasan yang timbul
karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan timbul karena orang itu
takut akan bayangannya sendiri sehingga menekan dan menguasai ego.
b) Rasa takut irrasional atau
phobia. Rasa takut ini sudah menular, sehingga kadang-kadang tanpa alas an dan
hanya karena pandangan saja. Yang kemudian dilanjutkan dengan khayalan yang
kuat dapat menimbulkan rasa takut.
Contoh :
·
Orang
takut ular, takut binatang berbulu, dsb.
c) Rasa takut lain ialah rasa
gugup, gagap dan sebagainya.
Contoh
:
·
Seorang
yang tak bisa bernyanyi atau bicara didepan umum, maka ia gelisah dan hilang
keseimbangan.
·
Penyesuaian
diri dengan lingkungan.
3. Kecemasan moral
Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti
perasaan iri dan sebagainya.
Contoh :
·
Datuk
meringgi iri melihat kemajuan usaha bagindo sulaiman. Hatinya selalu gelisah,
takut usahanya akan mati, kalah bersaing. Karena itu ia selalu menyuruh orang
agar membakar took Bagindo sulaiman.
2. Sebab-sebab Orang Gelisah
Sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada
hakikatnya orang takut akan kehilangan hak-haknya. Kata ishak, “Hak artinya perintah atau segala
ajaran yang dibawa oleh Nabi dan Al-Qur’an”. Kalau hak bersifat abstrak, maka
hak dalam Al-Qur’an diberi bobot khusus, karena salah satu nama Allah SWT
adalah Al-Haq. Seperti dalam Al-Qur’an : “Kemudian
mereka dikembalikan kepada Allah. Tuhan penguasa yang Haq.” (QS.Al-Ana’am : 62)
Dan
Firman-Nya:
“Sekiranya al-Haq mengikuti hawa nafsu mereka
niscaya langit dan bumi jadi rusak”.
Banyak
orang berfikir bahwa kegelisahan, merupakan keadaaan yang tidak “diinginkan”.
Tetapi para ahli jiwa berfikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup
manusia, atau sebagai “kawan akrab” yang memberi stimulus kepada tingkah laku
manusia. Kegelisahan yang terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia,
lingkungan dimana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.
Berikut
terdapat contoh-contoh orang gelisah :
a) Kegelisahan
dan kompleksitas manusia
Motif-motif perbuatan yang
mendorong dan mengarahkan tingkah laku tidak timbul dan dapat mencapai pemuasan
dengan cara yang sederhana. Sebaliknya motif-motif itu terjadi dalam keadaan
ruwet, bahkan kadang-kadang penuh kekacauan. Motif yang berbeda-beda bersaing
satu sama lain, dan pemuasan terhadap motif pertama akan disusul dengan
datangnya motif yang lain. Bertumpuknya pola-pola motif kehidupan manusia
mengajarkan kepada manusia bahwa tidak semua motif dapat dipuaskan, tetapi ada
juga yang memerlukan kesabaran untuk menundanya, dan bahkan bila perlu motif
itu ditinggalkan. Bila tidak akan menghasilkan kegelisahan.
b) Kegelisahan
dan Kondisi Lingkungan
Pemuasan yang menyeluruh
pada saat motif juga hampir tidak mungkin sebab tujuan motif itu hanya biasa di
capai menyeluruh jika sesuai dengan apa yang tersedia dilingkungan kita. Pada
lingkungan tertentu makanan mungkin tak tersedia untuk memuaskan rasa lapar,
karena orang itu tidak mampu membelinya, atau kawan-kawan orang itu tidak memperhatikannya
atau mengaguminya yang dapat digunakan untuk memuaskan keinginan akan status,
keakraban, cinta dan sebagainya.
Hal di atas itu mengajarkan kepada kita bahwa
beberapa motif lebih penting dari lainnya karena cukup sulit untuk dicapai atau
motif itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Dalam kehidupan kita perkara
makan dan minum bukanlah perkara yang sulit, karena makanan dan minuman cukup
tersedia pada kita walau ala kadarnya.
3. Usaha-usaha Mengatasi
Kegelisahan
Usaha-usaha mengatasi kegelisahan pertama-tama
harus mulai dari diri sendiri, yaitu harus bersifat tenang, sabar dan iman
kepada Allah.
Firman
Allah :
“Dan
sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira
kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah. 2:155)
Didalam Al-Qur’an Alah SWT memberi
petunjuk-petunjuk do’a yang baik untuk dibaca guna memohonkesabaran. Do’a
memohon kesabaran hati serta keteguhan pendirian dan pertolongan Allah SWT
dalam menghadapi cobaan dan orang kafir.
Firman
Allah SWT:
“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri
kami dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah, 2:250)
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami
dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-A’raf,
7:126)
B. KETERASINGAN
1. Pengertian Keterasingan
Keterangan berasal dari kata “terasing” dan kata
itu dari kata dasar “asing” berarti “sendirian, tidak dikenal orang”. Terasing
berarti “disisihkan dari pergaulan”. Jadi, keterasingan berati hal-hal yang
berkenaan dengan tersisihkannya seseorang dari pergaulan, terpencil atau
terpisah dari orang lain.
Terasing atau keterasingan adalah merupakan bagian
hidup manusia terhadap kaum mukmin yang sedang berada ditemat pengasingan, jauh
dari tanah airnya, yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Allah SWT memberikan
kesejukan hatinya dengan menunjukkan kiblat shalatnya.
Seperti
Firman-Nya :
“Dan kepunyaan Allah-Lah timur dan barat maka
kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah (kekuasaan Allah meliputi
seluruh alam). Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah, 2:115)
Hamparan bumi yang luas adalah tempat bagi
orang-orang mukmin untuk menyembah kepada Allah SWT. Karena dialah zat yang
berhak disembah disetiap tempat berbagai penjuru dunia.
2. Sebab-sebab Keterasingan
Orang hidup dalam keterasingan, pertama
sifat-sifat atau sikap yang tidak dapat diterima dan kedua karena perbuatannya.
Jadi keduanya juga karena perbuatan hanya berbeda sifatnya.
Bila
kita simpulkan, kedua sebab hidup keterasingan itu bersumber pada:
1) Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat
Perbuatan itu antara lain:
mencuri, bersikap angkuh, sombong atau kaku.
2) Sikap rendah diri
Sikap yang sejenis dengan
angkuh atau sombong ialah sikap kaku, pemarah dan suka berkelahi. Sikap seperti
ini, sebab takut terjadi konflik batin ataupun konflik fisik karena hal
merupakan perbuatan anak kecil.
Sikap ini juga disebut
sikap minder. Bukan orang lain yang memandang dirinya rendah, tetapi justru
dirinya sendiri. Sikap rendah diri itu ada sebab-sebabnya, mungkin cacat fisik,
karena sosial ekonominya, rendah pendidikannya dank arena perbuatannya.
A. Keterasingan karena cacat fisik
Cacat fisik itu tidak perlu membuat hidup terasing
karena cacat fisik itu kehendak Tuhan. Namun manusia, lain jalan pikirannya,
merasa malu anaknya atau cucunya yang cacat fisik, maka disingkirkan anak
tersebut dari pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.
Seperti
halnya dalam film “Detik-detik menyentuh kasih” seorang kakek malu melihat
cucunya lahir dalam keadaan cacat kakinya, ia berusaha membunuh bayi itu dengan
cara perlahan-lahan. Tetapi ibunya yang mengandung 9 bulan dengan penuh kasih
sayang, dengan diam-diam membawa lari anaknya ke sebuah desa jauh dari jauh
dari pergaulan ramai.
Anaknya
di didik diajar membaca, menulis, berhitung dan ternyata anak tersebut
mempunyai daya tangkap yang luar biasa. Dengan kaki buatan, ia dapat
bersekolah, bahkan sampai ke perguruan tinggi, dan akhirnya anak yang telah
dewasa itu berhasil menjadi penulis yang baik.
B. Keterasingan karena social ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugrah tuhan.
Orang tidak boleh membanggakan kekayaan, tetapi orang tidak boleh merasa rendah
diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah. Namun didalam kenyataan lain
keadaanya. Orang-orang yang lemah ekonominya sering kali merasa rendah diri,
akibat orang-orang yang kaya sering membanggakan kekayaannya, meskipun tidak
disengaja.
Seperti halnya dalam roman “Dian yang tidak kunjun
padam karya st.Alisyahbana”, setelah cintanya kepada Molek ditolak oleh orang
tua Molek R. Mahmud dan Cik Siti: Yasin mengasingkan diri dari pergaulan. R.
Mahmud beranggapan bahwa selain rendah martabatnya juga miskin. Oleh karena
merasa diri hanya sebagi penjual nanas, Yasin kecewa, ddan menyembunyikan diri
sebagai pertapa. Ia muncul pada waktu Molek meninggal dunia. Yasin bekerja
dengan giat, mengangkut air, dan menyediakan barang yang diperlukan untuk
pemakaman Molek. Molek meninggal akibat putus asa, kecewa atas perbuatan
suaminya, Sayid Mustafa keturunan Arab pilihan orang tuanya,
C. Keterasingan karena rendah pendidikan
Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan
rendah dan kurang pengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri karena
serba sulit menempatkan diri.
D. Keterasingan karena perbuatannya
Orang terpaksa hidup dalam keterasingan karena
merasa malu, dunia rasanya sempit, bila nampak orang ingin mukanya ditutupi.
Itu semua adalah akibat dari perbuatannya yang tidak bisa diterima oleh
masyarakat lingkungannya.
3. Usaha-Usaha untuk
Mengatasi Keterasingan
Keterasingan biasanya terjadi karena sikap
sombong, angkuh, pemarah, kaku, tetapi juga karena rendah diri, perbuatan yang
melanggar norma hukum. Pada hakikatnya sikap sombong, angkuh, kaku, rasa rendah
diri orang takut kehilangan haknya. Untuk mengatasi keterasingan ini perlu
kesadaran yang tinggi. Orang yang bersikap disadarkan, karerna apa yang mereka
lakukan dianggapnya sudah benar semua.
C. KESEPIAN
1. Pengertian Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyilengang, tidak ramai,
tidak ada orang atau kendaraan, dan
sebagainya. Kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Misalnya:
Setelah
tembakan gencar itu berhenti, tampak Jalanan sepi. Orang takut keluar, bahkan
suara deru mobil pun tak kedengaran.
Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena
kesepian merupakan bagian hidup manusia. Lama atau sebentar, perasaan kesepian
ini bergantung kepada mental orang dan kasus penyebabnya.
2. Sebab-sebab Terjadinya Kesepian
Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian,
frustasi pun dapat mengakibatkan kesepian yang bersangkutan tidak mau diganggu,
ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, ia kebih senang hidup
sendiri.
Kesepian itu akibat keterasingan dan keterasingan
akibat sikap sombong, angkuh, keras kepala, sehingga dijauhi kawan-kawan
sepergaulan.
Kesepian juga disebabkan karena takut kehilangan
hak nama baik. Nama baik merupakan harapan setiap orang. Bahkan orang takut
mati demi menjaga nama baik. Meskipun sudah berhati-hati menjaganya mungkin
juga orang masih berbuat salah, sehingga cemar nama baiknya. Untuk ini, sering
kali yang bersangkutan terpaksa hidup mengasingkan diri, akibatnya kesepian.
D. KETIDAKPASTIAN
1.
Pengertian Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal dari
kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya), apa yang
dipikirkannya tidak searah. Itu semua adalah akibat
pikirannya tidak dapat konsentrasi.
Ketidakpastian adalah bagian dari hidup manusia.
Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup. Setiap orang pernah
mengalaminya, Bahkan anak kecilpun pernah mengalaminya.
Misalnya:
Ketika
anak kecil ditinggalkan ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu
menunjukkan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
2. Sebab-sebab Terjadinya Ketidakpastian
Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat
berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Dalam berpikir ia
selalu menerima rangsangan (stimulus) dari luar, sehingga jalan pikirannya
menjadi kacau. Kalaupun ia dapat berpikir baik, akan memakan waktu yang cukup
lama dan sukar. Mereka menampakkan tanda-tanda obsesi, fobia/phobia, delusi,
gerakan-gerakan gemetar (buyuten), kehilangan pengertian (aparia), kehilangan
kemampuan untuk menangkap sesuatu (agnesia). Menurut Siti Meichati dalam
bukunya kesehatan mental ada beberapa sebab orang tidak dapat berpikir dengan
pasti. Sebab-sebab itu ialah sebagai berikut:
a. Obsesi
Obsesi
adalah gejala neurose jiwa,
yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya
tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab yang tak diketahui oleh
penderita. Misalnya, selalu berpikir ada orang yang ingin menjatuhkan kita.
Contoh:
ü
Seorang
kepala bagian suatu instansi karena kurang mampu bekerja selalu mempunyai
ingatan pihak yang ingin menjatuhkannya.
ü
Seorang
pedagang yang maju pesat, pada suatu saat berpikir olehnya ada kawannya yang
bingin menjatuhkannya. Pikirannya itu tidak hilang, tetapi justru menjadi-jadi.
Apalagi setelah ia merugi.
b. Phobia
Phobia adalah rasa ketakutan yang tak
terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui
sebab-sebabnya.
Contoh:
ü
Orang
yang takut kepada tempat yang tinggi. Secara tidak disengaja, jalan naik tak
terasa, sampai atas, ia takut luar biasa (Acrophobia).
ü
Ada
pula orang yang takut kepada orang banyak yang sedang berkumpul. Pada suatu
hari dirumahnya ada pencuri, ia berteriak sehingga tetangga disekitarnya
berlari datang ke rumahnya. Dalam sekejap telah berkumpul puluhan
orang. Herannya justru gemetaran, pucat, ketakutan luar biasa
(Ochlophobia).
Orang yang dilanda ketakutan itu tidak dapat
berfikir, pikirannya tidak pasti tidak menentu.
c. Delusi
Menunjukkan pikiran yang tidak beres, karena
berdasarkan suatu keyainan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat. Tidak ada
dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman.
Delusi
ini ada tiga macam, yakni:
1) Delusi persekusi
Menganggap adanya keadaan yang jelek disekitarnya.
2) Delusi keagungan
Menganggap dirinya orang penting dan besar. Orang
seperti itu biasanya gila hormat. Menganggap orang di sekitarnya sebagai
orang-orang yang tidak penting. Akhirnya semua orang menjauhi juga. Jadi,
hampir sama dengan delusi persekusi. Yang jelas akibatnya sama, ialah dijauhi
semua orang.
3) Delusi melancholis
Merasa dirinya bersalah, hina dan berdosa. Hal ini
dapat mengakibatkan buyuten atau dikenal dengan nama delirium tremens,
hilangnya kesadaran dan menyebabkan otot-otot tak berkuasa lagi. Ia kehilangan
ingatannya sama sekali. Ia kehilangan ingatannya sama sekali, mengalami tensi
tinggi dan mengingat sesuatu yang belum pernah dialami.
Contoh:
Mang cecep orang kampung pada suatu hari dipanggil
ke pengadilan untuk diminta kesaksiannya. Tetapi karena takutnya, keringat
dingin mengucur, ditanya ini itu tak dapat dijawab, mulutnya gementar. Akhirnya
jaksa tak memperoleh kesaksian apa-apa darinya. Untung saja ia tak jaut
pingsan.
d. Histeria
Ialah neurose jiwa yang disebabkan oleh tekanan
mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak
mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
Contoh:
§
Neneng
seorang gadis yang cukup manis. Pada suatu hari ia melihat pacarnya
berjalan-jalan dengan seorang gadis yang belum pernah dikenalnya. Rasa cemburu
berkecamuk dihatinya, dan setibanya di rumah dia berteriak histeris.
§
Ketika
ibu Bakri sedang melayani anaknya makan, datang orang-orang mengetuk pintu,
mengucap salam. Dijawabnya dan keluarlah ia. Di luar, kagetlah ia melihat orang
banyak mengusung jenazah yang ditutupi kain. Ibu itu langsung bertanya siapa
itu ?” Itu, bukan kang Bakri ! Semua yang ditanya diam. Akhirnya dia berteriak
histeris lalu pingsan.
e. Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca
indra. Seperti para prewangan (medium) dapat digolongkan pada pengalaman
halusinasi. Dengan Sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi. Halusinasi
buatan, misalnya dapat dialami oleh orang mabuk atau pemakaian obat bius.
Kadang-kadang karena halusinasi orang-orang merasa mendapat tekanan-tekanan
terhadap dorongan-dorongan itu menemukan sasarannya. Ini nampak dalam
perbuatan-perbuatan penderita (penderita itu dapat menyadari perbuatannya itu,
tetapi tidak dapat menahan rangsang khayalan sendiri).
Contoh:
o
Pada
suatu hari saya diajak teman saya yang bernama Nuradi pergi ke rumah orang yang
dapat menyebutkan siapa yang mencuri TV nya. Prewangan itu namanya Mbah Umi.
Setelah Mbah Umi makan bunga mawar, kemudian berbicara dengan suara yang agak
berbeda, entah suara itu dibuat-buat atau benar-benar suara yang timbul
sebelumnya.
o
Atang
memang seorang peminum. Bila sedang marah makin hebat minumnya. Setelah ia
mabuk biasanya ia mengoceh (berbicara tidak menentu).
f. Kompulasi
Kompulasi ialah keragu-raguan yang sangat mengenai
apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari untuk selalu
melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali (Neurose).
Contoh:
ü
Keinginan
untuk mengambil barang orang (mencuri), padahal barang itu tak bermanfaat
baginya, dan andaikata ingin membeli, mampu juga dia (Kleptomania).
ü
Keinginan
minum-minuman keras. Orang itu bukan pemabuk, tetapi bila dilanda pikiran atau
perasaan kecewa keinginan minumnya tak dapat dibendungnya (dispemania).
g. Keadaan
Emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang sangat
terpengaruh oleh emosinya. Ia sampai pada keseluruhan pribadinya : gangguan
pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan
darah tinggi/lemah. Sikapnya dapat apatis atau terlalu gembira dan karena itu
dilepaskan di dalam gerakan-gerakan lari-larian, nyanyian, ketawa atau
berbicara. Sikap ini dapat pula berupa kesedihan menekan, tidak bernafsu, tidak
bersemangat, gelisah, dsb. Jelas kepada kita orang yang demikian itu tidak
mungkin dapat berfikir dengan tenang dan dengan baik.
Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran
yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya
tetap masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog.
Untuk menghadapi kegelisahan biasanya dengan
menggunakan sikap positif yang biasa berlaku umum ini akan berwujud tindakan-tindakan
yang sangat dianjurkan, yaitu meliputi:
1.
Hadapi
dan rencanakan segala kemungkinan problema yang timbul dan sikap yang
dibayangkan akan terjadi, sampai pada yang sejelek mungkin.
2. Susunlah persiapan
cara-cara menghadapinya beserta pemecahannya.
3. Mendeteksi sebanyak
mungkin tentang hal-hal yang menyebabkan gelisah termasuk didalamnya;
sebab-sebab dan problemanya.
4. Hadapilah dengan tabah
kegelisahan beserta sebab-sebab dan problemanya dan bersiap sedia.
5. Jika mampu meskipun
mungkin tidak dapat secara spontan hilangkanlah sebab-sebab kegelisahan yang
ada.
6.
Ajaklah
orang lain bekerja sama dalam mengatasi kegelisahan ini paling tidak untuk ikut
memikirkan atau memberi perhatian atau memahami keadaan sadar.
Sumber
Referensi :
http://ilmubudayadasar-wanda.blogspot.com/2011/12/manusia-dan-kegelisahan.html
Label:
Tugas IBD#
